0

Cerita Singkat Kehidupan

Medan, 23 April 2017

Livecasino338 - ROMAN “Medan Di Waktu Malam” karya SM. Taufik. Lahir di Kisaran, 31 Desember 1925. Menulis sejak 1945 berupa puisi, prosa dan drama. Bekerja sebagai guru, wartawan dan pegawai negeri, hingga 1977. Pernah memenangkan lomba cipta roman (1949) dan puisi (1950,1951) tingkat Medan dan Sumut. Aktif di Barisan Pemuda Indonesia cimb livecasino338, veteran, radio, majalah. Juga di komunitas budaya, sastra dan pers, bersama Narmin Suti, Andjasmara, Edi Saputera. Telah menerbitkan 12 judul buku roman. Hal menarik dari roman ini ada tiga. Pertama, berlatar Kota Medan tahun 1950. Disebutkan nama tempat, jalan dan suasana kota ketika itu. Kedua, terbit pada masa roman picisan di Medan. Pengarangnya di luar angkatan pujangga baru. Bersifat diskriminasi politis yang dilakukan Balai Pustaka Jakarta. Ketiga, bercerita tentang sampah masyarakat di Medan. Persoalannya, bagaimana idepenulis melawan stigma sampah masyarakat itu. Karenanya, roman ini layak diapresiasi.


Kota Medan 1950 

    “Malam Minggu, malam pandjang. Riuh ramai, golongan marhaen dan tingkatan atas. Menjemak kota dengan berdjalan kaki atau dengan kenderaan. Ada jang menghilang ke dalam gedung, bioskop atau restoran. Segala matjam kenderaan hilir-mudik. Ruangan radio, swing musik, lontjeng tritja, terompet dan klaxson motor. Semua memekak telinga/…/ .Gemerlapan intan berlian membalas sinar listerik djalan dan sorot lampu ribuan toko berbagai ragam dagangan” (Malam Minggu).

     Petikan ini menggambarkan ramainya kota Medan saat tertentu waktu malam Minggu. Tua-muda, pria-wanita, anak-anak ke luar rumah. Mulai rakyat biasa sampai kaum elit, sekedar jalan-jalan, makan, menonton atau sesuatu urusan. Berjalan kaki, bersepeda, naik becak atau mobil. Sendiri, berkeluarga, berkawan-kawan. Mereka menyulut terompet, lonceng sepeda, lonceng becak dan klakson mobil. Beradu keras dengan suara radio dan musik. Diterangi cahaya listrik jalanan dan pertokoan.

     Nama tempat dan jalan yang dikatakan dalam roman ini. Pusat pasar sebagai pusat keramaian. Lalu, Kota Maksum, Sei Mati, Cathay Bioskop, Rex Theatre, Kesawan dan Petisah Darat. Kemudian, Jalan Serdang, Kacang, Deli, Japaris, Laksana dan Puri. Tak terkecuali Jalan Hakka, Hongkong, Kanton dan Raja. Tak lupa, di daerah, seperti Bunut Kisaran, Bandar Sono Tebing Tinggi livecasino338 dan Binjai. Semua tempat dan jalan pada tahun 1950 itu, sekarang masih ada walau banyak yang berubah.

     Lima tahun setelah proklamasi dan dua tahun usai perang kemerdekaan. Keduanya, berhasil diraih dengan gemilang. Lantas, kebebasan serta keamanan menjadi milik masyarakat Kota Medan. Sudah lama kota dicengkeram dan sudah lama masyarakat dibungkam. Sistem etise politik dan saudara tua, hanyalah omong kosong. Kebebasan seperti katak di bawah tempurung. Kini, saatnya, kota dan masyarakat menikmati kemerdekaan dan kebebasan itu secara murni dan bertanggunjawab.

     Begitupun, dominasi Belanda pengusaha tembakau deli, sangat memengaruhi wajah kota Medan. Baik dari bangunan kota bergaya eropa sampai membentuk tradisi kehidupan sosial. Dari segi ini aktifitas masyarakat cenderung bersifat praktis ekonomis. Misal, terjadi transaksi jualbeli segala rupa sesuai kebutuhan. Bahkan hiburan seperti pasar malam, bioskop, permainan bersifat komersil. Justru itulah kota Medan digelar kota kembang dagang. Dahulu disebut Paris van Sumatera.


Roman Picisan Medan

     Munculnya cerita ini tatkala masyarakat Medan dilanda demam roman. Laris manis di pasaran (dalamluar) kota Medan. Sehingga roman ini pada tahun 1949 terbit dua kali. Masing-masing dicetak Tjermin Hidup dan Pusaka Timur. Setahun kemudian (1950) diterbitkan lagi, meskipun melalui majalah Kedjora, khusus edisi roman. Kebetulan dicetak National Brook Store di mana pengarang bekerja. Bukan lantaran itu, melainkan karena romannya memang menarik dan dinamis.

     Penerbit lain seperti Doenia Pengalaman, Pewarta Deli, Loekisan Poedjangga, Tjenderawasih, Pedoman Masyarakat. Sementara pengarangnya seperti Hamka, A. Hasjmi, Matumona, Joesoef Souyb, Narmin Suti, Usman Siregar, Tamar Djaja, Sukma Merayu, A. Damhuri, Qasim Ahmad, RP. Sitanggang, Partahi Simanjuntak, Surapati, Hasballah Parinduri, Helmi Yunan. Hal ini berarti, sejak dahulu, pengarang, penerbit, pembaca, telah menghidupkan budaya literasi di Kota Medan.

     Mengingat cerita diterbikan percetakan Medan, maka semua roman disebut picisan. Murah harganya rendah mutuya. Roman picisan adalah bentuk diskriminasi politis yang dilancarkan Balai Pustaka di Jakarta. Padahal sesudah pihak asing angkat kaki, ternyata ada yang diterbitkan Balai Pustaka. Ha ini merupakan bukti, tidak semua roman itu rendah mutunya. Contoh, roman-roman karya Hamka, Matumoma, Joesoef Souyb dan lainnya yang sebetulnya memang bermutu.

    Konon kabarnya kelemahan pengarang Medan soal pemakaian bahasa, tanda baca dan lainnya. Hal ini terjadi karena pengarang Medan memiliki bahasa tersendiri. Selain itu, kebanyakan pengarang tidak terpelajar, kecuali hanya mengandalkan bakat alam. Pemakaian bahasa dan tanda baca, terkadang kurang tertib.Namun tema, isi atau ide roman mengandung nilai kehidupan, kemanusiaan dan kemerdekaan. Nilai-nilai itu sangat dibutuhkan pembaca, bangsa dan negara.

    Sebaliknya, pengarang Jakarta dibelenggu oleh syarat-yarat penerbitan. Kalau syarat ini idak terpenuhi, maka penerbitan ditunda. Akibatnya,pengarang tidak mendapat royalti. Mengingat hal itu, pengarang pun terpaksa memenuhi syarat.

    Contoh roman “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis. Setelah bercerai, Corrie adalah wanita karir dan mati karena penakit TBC. Padahal dia menjadi pelacur dan penyakit raja singa. Artinya, Corrie adalah suri teladan bagi emansipasi wanita Indonesia.

     Bukankah roman terbitan Balai Pustaka Jakata didanai pemerintah? Setidaknya ada subsidi dari pemerintah (penjajah dan republik). Dengan demikian, mana lebih murah. Harga roman Medan (terbitan swasta) atau harga roman Jakarta (terbitan negara). Mana lebih baik bagi masa depan. Roman Medan yang dibeli pembaca (walau harga murah) dengan roman Jakarta yang dibagi-bagikan gratis atau harga murah kepada pembaca. Karena itu perlu penelitian lebih mendalam.


Medan di Waktu Malam 

    Roman ”Medan Di waktu Malam” karya SM. Taufik ini terdiri dari beberapa subjudul. Medan Paris Sumatera, Kawin Paksa, Bahagia Bajangan, Badai Hasutan, Malam Minggu dan lainya. Ada 64 halaman ukuran sedang. Gambar kulit depan, wanita cantik berbaju bunga-bunga sedang bertopang dagu. Latar lukisan bangunan gedung perkotaan. Ada sinar laser di atasya dan mobil-mobil di bawahnya. Terasa bahwa subjudul awal ialah prolog, sedang subjudul akhir epilog dalam bentuk surat.

     Marni, janda dari Bunut. Ketika hendak dinikahkan ibunya di Kisaran, dia lari ke Medan. Di sana, semula, dia menjadi babu, pembantu rumah tagga. Tak lama, pindah menjadi pelayan bopet (boofet). Dengan gaji dan uang tip, dia bisa bertahan hidup, menyewa rumah dan menabung. Bahkan memiliki pacar, Dharmawi, yang segera melamarnya. Marni setuju. Sebab, selain dia pemuda baik, tahu menghargai pekerjaan. Marni ingin melepas diri dari konflik batin yang menjeratnya sebagai pelayan.

     Keluarga Dharmawi yang berada dan terhormat, menolaknya. Marni bukanlah wanita baik-baik. Dia pelacur, sampah masyarakat. Tetapi Dharmawi melawan meski harus terusir dari rumah. Tak cuma itu, orang-orang sewaan melancarkan fitnah. Termasuk Nurbainah, mengaku pacar Dharamawi yang dizolimi. Marni sempat galau termakan hasutan. Lalu, memutuskan menghilang dari Medan. Tidak kembali ke Bunut Kisaran, melainkan ke Binjai sebagai kota baru.

     Dharmawi menyusul dan bertemu Marni. Fitnah yang dilakukan keluarga, semakin menguatkan mereka untuk segera menikah. Di Binjai mereka membina rumah tangga, hingga Marni hamil. Betapa bahagianya. Dharmawi dipindahtugaskan ke Medan. Mau tak mau, mereka harus pindah dan tinggal di Petisah Darat. Keluarga Dharmawi mengetahui dan melancarkan finah kembali. Orang sewaan mengatakan, Dharmawi telah menikahi Nurbainah. Lengkap foto bersanding dan surat-surat.

    Marni minta cerai, tetapi Dharmawi tak mengabulkan. Dia sadar bahwa istrinya termakan hasutan. Benar saja, tak lama bunga melur itu menginsyafi kekeliruan. Sedang Nurbainah yang memendam rasa, harus mengalah dan rela. Apalagi tak mampu melawan sakit, lalu meninggal dunia. Akhirnya, Marni dan Dharmawi melanjutkan kehidupan. Menanti kelahiran anak pertama dengan harap cemas. Keluarga Dharmawi mendoakan agar Marni melahirkan dengan selamat.

    Pelayan bopet bukan pelacur. Dia pelayan pelanggan makan secara prasmanan (menu tersedia di atas meja panjang). Karena itu, pelayan bopet adalah pekerjaan halal, baik di hotel, restoran atau warung pinggir jalan. Kalaupun terjadi praktek pelacuran atau transaksi jual-beli prostitusi, sangat tergantung kepada oknum pelanggan dan pelayan. Marni bukanlah pelayan seperti itu. Dia bunga melur dari desa yang tahu mana halal mana haram dalam menjalani kehidupan ini.

    Dharmawi memahami, kecuali keluarga. Tanpa selidik sudah menuduh kalau Marni adalah pelacur atau sama dengan pelacur. Dharmawi bersikap, andai Marni pelacur, dia siap menikahi.

   ”Dia’kan manusia yang berhak untuk hidup. Saja membimbing dia ke djalan kebenaran. Betul tidak berarti, hanya menjinduk air lautan. Tetapi jang setjiduk itu dapat disumbangkan kepada masjarakat,” kata Dharmawi. Gebrakan angkatan muda terhadap masalah sosial usai peperangan.

    Konon kabarnya, di Swedia, prostitusi dianggap bentuk kekerasan lelaki terhadap wanita. Sebab itu, lelaki harus dikriminalisasi, sedang wanita wajib diberi bantuan. Dharmawi memberikan bantuan langsung nyata kepada Marni dengan cara menikahinya. Sehingga bimbingan bisa menjadi lebih baik dan penuh tanggungjawab. Perlu digarisbawahi bahwa Marni bukanlah pelacur. Dia adalah bunga melur, ingin melebur konflik batin dan sosial yang dirasakannya selama ini.



Hidup adalah suatu tantangan yang harus dihadapi dan Perjuangan yang harus dimenangkan


Posting Komentar

 
Top